KAJIAN / TEKNOLOGI

Rasio Data Center per Juta Penduduk: Indonesia vs Malaysia, Singapura, dan Vietnam

Debrian R. Saragih Debrian R. Saragih
29 Sep 2026
80 tayangan
Rasio Data Center per Juta Penduduk: Indonesia vs Malaysia, Singapura, dan Vietnam
Ringkasan
Snapshot Data Center Map yang dipublikasikan Visual Capitalist pada 18 Februari 2026 mencatat 184 fasilitas data center yang operasional di Indonesia, sehingga menempatkan Indonesia di urutan ke-14 dunia, di atas Malaysia (109), Singapura (65), dan Vietnam (41). Sekilas, Indonesia tampak seperti pemain besar kawasan.

Snapshot Data Center Map yang dipublikasikan Visual Capitalist pada 18 Februari 2026 mencatat 184 fasilitas data center yang operasional di Indonesia, dan menempatkan Indonesia di urutan ke-14 dunia, di atas Malaysia (109), Singapura (65), dan Vietnam (41). Sekilas, Indonesia tampak seperti pemain besar kawasan. Namun angka tersebut belum memperhitungkan jumlah penduduk yang dilayani. Jika kita telusuri lebih dalam, dengan jumlah data center sebanyak 65 fasilitas, Singapura hanya melayani sekitar 6 juta orang, sangat berbeda jauh dibandingkan dengan Indonesia yang harus melayani hampir 285 juta penduduknya.

Artikel ini menjawab satu pertanyaan: jika dibagi jumlah penduduk dan kapasitas listriknya, di mana posisi Indonesia sebenarnya?

Cara mengukur dan batas datanya

Semua rasio memakai penduduk tahun 2025 agar sebanding dengan rincian sebagai berikut:

  • Indonesia: Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 BPS mencatat 284,67 juta jiwa. bisnis
  • Malaysia: DOSM memperkirakan 34,2 juta jiwa pada 2025. dosm
  • Singapura: SingStat mencatat 6,11 juta jiwa pada Juni 2025. Angka ini termasuk penduduk non-residen. population
  • Vietnam: Kantor Statistik Umum (GSO) menyebut rata-rata penduduk 2025 sebesar 102,3 juta. vietnam

Indonesia punya banyak data center, tapi penduduknya jauh lebih banyak lagi

Data Center Map mencatat 184 fasilitas di Indonesia, 109 di Malaysia, 65 di Singapura, dan 41 di Vietnam (snapshot Februari 2026). Kita bandingkan dengan jumlah penduduk 2025: Indonesia 284,67 juta (BPS), Malaysia 34,2 juta (DOSM), Singapura 6,11 juta (SingStat, Juni 2025), dan Vietnam 102,3 juta (GSO).

Perbandingan Fasilitas Data Center per Juta Penduduk
Perbandingan Fasilitas Data Center per Juta Penduduk

Artinya, di Singapura ada satu data center untuk setiap sekitar 94 ribu penduduk, dimana penduduk Singapura di sini mencakup non-residen (sekitar 31% dari total), sehingga rasionya akan sedikit lebih tinggi bila dihitung per warga saja. Di Indonesia, satu data center harus "berbagi" dengan sekitar 1,55 juta orang, atau enam belas kali lebih banyak. Malaysia berada di tengah dengan rasio sekitar lima kali Indonesia.

Peringkat Indonesia pun berubah. Di daftar dunia, Indonesia ada di urutan ke-14 dengan 184 fasilitas. Setelah dibagi jumlah penduduk, Indonesia turun ke urutan ketiga dari empat negara, hanya sedikit di atas Vietnam (1,6 kali lipat).

Kalau diukur dari listriknya, Indonesia sejajar Vietnam

Jumlah fasilitas punya kelemahan dimana untuk data center kecil dan raksasa dihitung sama-sama "satu". Ukuran yang lebih adil adalah kapasitas listriknya (dalam megawatt/MW), yang menunjukkan seberapa besar beban server yang bisa ditampung.

Trik memahaminya: 1 MW per juta penduduk sama dengan 1 watt per orang. Bayangkan setiap penduduk "punya jatah" sekian watt listrik untuk data center.

Berikut kapasitas operasional dari beberapa sumber, dengan periodenya:

  • Singapura: Cushman & Wakefield mencatat kapasitas operasional 1.043 MW pada akhir 2025. cushmanwakefield
  • Malaysia (Johor saja): 897 MW pada akhir 2025, dan 1.110 MW pada H1 2026. Angka nasional tentu lebih tinggi, jadi ini batas bawah. cushmanwakefield dan cushmanwakefield
  • Indonesia: Greater Jakarta tercatat 322 MW pada akhir 2025 (Cushman & Wakefield). Savills memakai cakupan lebih luas, yakni Jabodetabek dan Batam: 683,1 MW per Juni 2026. Sumber lain menyebut sekitar 580 MW kapasitas operasional nasional per Juli 2026. Asia Pacific’s Data Centre Development Pipeline Hits Record 19.4GW in 2025 +2
  • Vietnam: sekitar 221 MW kapasitas desain gabungan (kutipan U.S. International Trade Administration). Periode datanya tidak dijelaskan di kutipan tersebut, jadi perlu diverifikasi. brightlio
Perbandingan Kapasitas Data Center per Juta Penduduk
Perbandingan Kapasitas Data Center per Juta Penduduk

Sebagai gambaran, jatah Singapura setara belasan lampu LED 10 watt yang menyala terus untuk setiap penduduk. Jatah Indonesia bahkan tidak sampai seperempat satu lampu.

Kelipatannya juga besar. Singapura sekitar 70 hingga 150 kali Indonesia, tergantung angka Indonesia mana yang dipakai. Malaysia, bahkan dengan hitungan konservatif yang hanya menghitung Johor, sekitar 11 hingga 23 kali.

Yang menarik, Indonesia dan Vietnam ternyata berada di kisaran yang sama, sekitar 1 sampai 2 watt per orang. Padahal dari sisi jumlah fasilitas per kapita, Indonesia unggul 1,6 kali dari Vietnam. Artinya, keunggulan jumlah itu tidak terlihat dalam kapasitas listrik, dan penjelasannya ada di insight berikutnya: fasilitas Indonesia banyak, tetapi ukurannya kecil.

Rentang angka Indonesia (322 sampai 683 MW) lebar karena tiap lembaga menghitung dengan cakupan berbeda. Cushman & Wakefield hanya melihat pasar Greater Jakarta, sedangkan Savills memasukkan Batam dan kapasitas yang lebih luas. Karena itu, di artikel ini Indonesia ditulis sebagai rentang, bukan satu angka pasti.

Banyak fasilitas, tapi ukurannya kecil-kecil

Apabila kapasitas listrik dibagi jumlah fasilitas, kita dapat gambaran ukuran rata-rata satu data center. Hasilnya cukup mencolok:

Rata-rata Kapasitas Satu Data Center di Asia Tenggara
Rata-rata Kapasitas Satu Data Center di Asia Tenggara

Artinya, satu data center rata-rata di Singapura kira-kira setara empat sampai sembilan data center di Indonesia. Indonesia punya banyak fasilitas, tetapi sebagian besar berskala kecil. Singapura dan Johor sebaliknya, lebih bertumpu pada kampus besar yang menampung ribuan rak sekaligus.

Hitungan ini sifatnya perkiraan. Jumlah fasilitas (184) mencakup semua yang terdata, termasuk yang kecil, sedangkan data kapasitas lebih banyak menangkap fasilitas kolokasi dan hyperscale. Studi Krungsri, misalnya, menghitung 88 fasilitas untuk Indonesia, 99 untuk Singapura, dan 62 untuk Malaysia, jauh berbeda dari angka Data Center Map. Karena itu, angka 184 sebaiknya dibaca sebagai "semua fasilitas operasional yang terdata", bukan "fasilitas kelas besar".

Kapasitas tipis, tetapi banyak ruang yang masih kosong (Vacancy rate)

Ini temuan yang paling tak terduga. Kita akan mengira negara dengan kapasitas per kapita serendah Indonesia pasti kekurangan ruang, sehingga hampir semua rak terisi. Ternyata tidak.

Pada akhir 2025, tingkat kekosongan kolokasi (vacancy rate) di Greater Jakarta mencapai 24,9%, sedangkan Singapura hanya 4,9% dan Johor 0,7%. Di Johor, hampir semua ruang sudah terisi. Di Jakarta, sekitar seperempatnya masih menganggur. cushmanwakefield

Jadi kapasitas per kapita yang rendah tidak otomatis berarti pasarnya kehabisan pasokan. Ada beberapa kemungkinan yang layak ditelusuri: kapasitas baru selesai lebih cepat daripada penyewanya datang, harga dan lokasi belum cocok dengan kebutuhan pelanggan, atau adopsi cloud domestik belum secepat pembangunannya. Data yang ada belum cukup untuk memastikan mana penyebab utamanya, tetapi polanya cukup jelas untuk diangkat sebagai pertanyaan yang menggambarkan kondisi yang ada di Indonesia saat ini.

Terpusat, dan jaraknya belum menyempit

Kapasitas data center Indonesia menumpuk di dua tempat. Savills mencatat kapasitas IT terpasang sebesar 683,1 MW per Juni 2026 di Jabodetabek dan Batam, dengan Jabodetabek 535,5 MW dan Batam 147,6 MW. Kalau dihitung, sekitar 78% ada di Jabodetabek dan 22% di Batam. Sisanya, di luar dua kawasan itu, hampir tidak terlihat. savills

Bandingkan dengan sebaran penduduk. Sekitar 55,65% penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, jadi masih ada puluhan juta orang di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah timur yang jauh dari data center berskala besar. Rata-rata nasional menyamarkan ketimpangan ini. bisnis

Lalu, apakah Indonesia sedang mengejar? Kabar baiknya, pipelinenya besar. Pada H1 2026, Jakarta memiliki pipeline 1.699 MW dengan 395 MW sedang dibangun, sedangkan Johor memiliki pipeline 3.088 MW dengan 602 MW sedang dibangun. Namun Johor ikut melaju dari titik awal yang lebih tinggi, sehingga selisih absolutnya belum tentu mengecil. Indonesia sedang berlari, tetapi lawannya juga berlari, dan lebih dulu di depan. cushmanwakefield

Kesimpulan: pertanyaannya bergeser

Angka 184 memberi kesan Indonesia raksasa data center. Tapi angka itu menyusut begitu kita bagi dengan jumlah penduduk:

  • Per orang: satu data center di Indonesia harus dibagi dengan sekitar 1,55 juta penduduk. Di Singapura, satu data center cukup untuk sekitar 94 ribu orang.
  • Per watt: kapasitas listrik data center Indonesia hanya sekitar 1 sampai 2 watt per orang, sejajar Vietnam. Singapura sekitar 171 watt, dan Malaysia setidaknya 26 watt.
  • Per fasilitas: rata-rata satu data center Indonesia berkapasitas sekitar 2 sampai 4 MW, sedangkan Singapura sekitar 16 MW. Kita punya banyak bangunan, tetapi kecil-kecil.

Dari hasil analisis awal tersebut mungkin akan tergambarkan bahwa Indonesia kekurangan data center. Namun sebenarnya ada satu angka yang tidak cocok dengan hipotesis itu yaitu adanya vacancy rate yang tinggi sebesar 24,9% ruang kolokasi di Greater Jakarta masih kosong, dibandingkan 4,9% di Singapura dan 0,7% di Johor. Negara yang kapasitasnya tipis ternyata memiliki tingkat kekosongan yang tinggi.

Kesimpulannya, Indonesia sebenarnya menghadapi dua masalah sekaligus. Yang pertama adalah kapasitas layanan per orang yang masih jauh tertinggal untuk mencakup seluruh populasi Indonesia. Yang kedua adalah ruang yang sudah dibangun belum seluruhnya dapat terserap. Hal ini ditambah lagi faktar di lapangan bahwa sekitar 78% kapasitas menumpuk di Jabodetabek, 22% di Batam, dan puluhan juta penduduk di luar Jawa hampir tidak tersentuh, gambarannya menjadi lebih rumit daripada sekadar mengejar "bangun lebih banyak" data center di Indonesia.

Karena itu, pertanyaan berikutnya bukan lagi berapa banyak data center yang kita punya, melainkan seberapa besar kapasitasnya, di mana sebarannya, dan seberapa besar yang bisa terserap.

Batasan data

  • Jumlah fasilitas adalah snapshot Februari 2026 dari satu sumber dimana definisi "operasional" mencakup seluruh jenis fasilitas.
  • Kapasitas Indonesia sangat bergantung definisi: 322 MW (C&W, Greater Jakarta) hingga 683 MW (Savills, Jabodetabek + Batam).
  • Kapasitas Malaysia hanya Johor, sehingga rasio nasionalnya adalah batas bawah.
  • Data Vietnam adalah kapasitas desain dengan periode yang perlu dikonfirmasi.
  • Penduduk Singapura mencakup non-residen (±31%), yang menurunkan rasionya dibanding penghitungan berbasis warga.
  • Rasio per kapita tidak mengukur kualitas, permintaan riil, atau kesiapan.

Komentar (0)

Ikut Berdiskusi

Silakan masuk ke akun Anda untuk berpartisipasi dalam diskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan wawasan!